Jalih Pitoeng Sambangi Bang Azran di Gedung DPD RI, Bahas Masa Depan Betawi dan Jakarta

JAKARTA – Tokoh Betawi Jalih Pitoeng menyambangi Anggota DPD RI/MPR RI Dapil DKI Jakarta sekaligus Ketua Umum DPP FORKABI, Achmad Azran, di Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan strategis terkait masyarakat Betawi sekaligus perkembangan dan masa depan Jakarta.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Keduanya berdiskusi mengenai pentingnya menjaga eksistensi masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta yang terus bergerak sebagai kota global. Pembahasan juga menyentuh persoalan kebudayaan, ruang hidup masyarakat, ekonomi, hingga keterlibatan generasi muda Betawi dalam pembangunan Jakarta.

Achmad Azran mengatakan, Betawi tidak boleh hanya ditempatkan sebagai identitas budaya yang dikenang melalui simbol dan seremoni. Menurutnya, masyarakat Betawi harus menjadi bagian penting dari proses pembangunan dan memiliki ruang yang cukup untuk berkembang di Jakarta.

“Betawi adalah ruh Jakarta. Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan Jakarta, kita juga harus berbicara tentang masa depan masyarakat Betawi. Jangan sampai Jakarta semakin maju secara fisik, tetapi masyarakat Betawinya justru semakin kehilangan ruang dan kesempatan,” ujar Bang Azran.

Sebagai Ketua Umum DPP FORKABI, Azran menegaskan bahwa perjuangan menjaga marwah dan masa depan masyarakat Betawi harus dilakukan dengan cara yang terbuka, konstruktif dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Yang kita jaga bukan hanya rumah adat, kesenian atau tradisi Betawi. Yang paling penting adalah manusianya. Anak-anak Betawi harus punya masa depan di Jakarta, punya kesempatan untuk sekolah, bekerja, berusaha dan ikut menentukan arah kotanya sendiri,” kata Azran.

Ia menambahkan, persoalan Betawi tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan kebudayaan. Dibutuhkan kebijakan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung, mulai dari pendidikan, ekonomi, kesempatan kerja, pelestarian budaya, hingga perlindungan terhadap ruang hidup masyarakat Betawi.

Sementara itu, Jalih Pitoeng menyampaikan bahwa komunikasi dan sinergi antartokoh Betawi perlu terus dibangun untuk menyatukan gagasan mengenai masa depan Jakarta. Menurutnya, perubahan Jakarta harus tetap memberi tempat yang layak bagi masyarakat Betawi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah dan identitas kota.

Jalih menilai, kehadiran Achmad Azran di DPD RI menjadi penting karena Jakarta membutuhkan wakil yang tidak hanya memahami persoalan masyarakat, tetapi juga mampu membawa aspirasi tersebut ke ruang kebijakan.

“Menurut saya, warga Jakarta tidak salah ketika memilih Bang Azran. Pilihan itu bukan sekadar memilih seseorang untuk duduk di lembaga negara, tetapi memilih orang yang memahami Jakarta, memahami Betawi, dan tahu bagaimana membawa suara masyarakat ke dalam ruang pengambilan kebijakan,” ujar Jalih.

Ia mengatakan, seorang wakil rakyat harus memiliki kemampuan untuk mendengar sekaligus keberanian untuk menyampaikan. Di tengah perubahan Jakarta yang begitu cepat, dibutuhkan figur yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan kota dan kepentingan masyarakat yang menjadi bagian dari sejarahnya.

“Bang Azran adalah orang yang tepat karena dia tidak melihat Betawi hanya sebagai masa lalu. Dia melihat Betawi sebagai bagian dari masa depan Jakarta. Itu cara pandang yang menurut saya penting. Jakarta membutuhkan orang yang mampu membaca zaman tanpa kehilangan akar,” kata Jalih.

Menurutnya, representasi masyarakat Jakarta di lembaga negara tidak cukup hanya diukur dari seberapa sering seseorang berbicara, tetapi juga dari seberapa jauh gagasan yang dibawa mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Kalau Jakarta ingin maju, masyarakatnya harus ikut maju. Kalau Betawi ingin bertahan, maka Betawi harus punya ruang untuk berkembang. Di situlah saya melihat pentingnya peran Bang Azran. Ia berada di tempat yang tepat untuk memperjuangkan kepentingan itu dengan cara yang konstruktif dan bermartabat,” ujarnya.

Pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi antara tokoh-tokoh Betawi dengan para pemangku kebijakan di tingkat nasional maupun daerah. Aspirasi masyarakat Betawi dinilai perlu terus disuarakan secara konstruktif agar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberikan manfaat nyata.

“Jakarta boleh berubah, tetapi jangan sampai kehilangan jati dirinya. Kemajuan kota harus berjalan bersama dengan penghormatan terhadap sejarah, budaya dan masyarakat yang sejak awal menjadi bagian dari Jakarta,” tutup Azran.(*)

Artikel Terkait

Scroll to Top