Bang Azran: Integrasi dan Reformasi Pengelolaan Pasar Tradisional Harus Berpihak pada Masyarakat Jakarta

‎JAKARTA-Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan DKI Jakarta, Achmad Azran yang akrab disapa Bang Azran, menyampaikan tanggapan atas pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengenai belum optimalnya integrasi dan pengelolaan pasar-pasar tradisional di Jakarta dengan sistem transportasi modern.

‎Menurut Bang Azran, pengakuan tersebut merupakan langkah awal yang penting dalam upaya pembenahan tata kelola pasar rakyat di Ibu Kota. Ia menegaskan bahwa pasar tradisional memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial dan penggerak utama ekonomi kerakyatan.

‎“Pasar tradisional adalah denyut nadi ekonomi warga Jakarta. Di sana ada jutaan transaksi setiap hari, ada pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya, dan ada masyarakat yang bergantung pada harga yang terjangkau. Karena itu, pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, terukur, dan berkelanjutan,” ujar Bang Azran.

‎Bang Azran menilai integrasi pasar tradisional dengan sistem transportasi publik seperti TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta merupakan kebutuhan mendesak di tengah tingginya mobilitas warga Jakarta. Integrasi tersebut, menurutnya, tidak hanya berbicara soal kedekatan lokasi pasar dengan halte atau stasiun, tetapi juga menyangkut akses pejalan kaki yang aman dan nyaman, penataan parkir yang tertib, sistem distribusi barang yang efisien, serta pemanfaatan teknologi dalam sistem pembayaran dan manajemen pasar.

‎Pria asli Betawi itu menegaskan bahwa modernisasi pasar tidak boleh menghilangkan identitas dan karakter tradisionalnya. Revitalisasi harus tetap berpihak pada pedagang kecil dan UMKM, bukan sekadar perubahan fisik bangunan. Peningkatan kapasitas pedagang, akses terhadap pembiayaan, penguatan rantai pasok, serta penataan zonasi yang lebih higienis dan tertib juga harus menjadi bagian dari reformasi menyeluruh.

‎Sebagai anggota DPD RI/MPR RI, Bang Azran menyatakan komitmennya untuk mendorong sinergi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadirkan kebijakan yang mendukung revitalisasi pasar tradisional. Ia juga akan terus menyerap aspirasi pedagang dan komunitas pasar untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

‎“Transformasi Jakarta menuju kota global harus tetap berpijak pada keadilan sosial. Pasar tradisional harus menjadi simbol keberpihakan pada ekonomi rakyat, bukan justru terpinggirkan oleh arus modernisasi,” tegas Bang Azran.

‎Ia berharap pembenahan tata kelola dan integrasi pasar tradisional dapat menjadi momentum untuk memperkuat struktur ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, serta menghadirkan tata kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Artikel Terkait

Scroll to Top