Taman Bendera Pusaka: Integrasi Ruang Hijau yang Visioner dan Solusi Cerdas Tata Kota Jakarta

JAKARTA– Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan DKI Jakarta, Achmad Azran, yang akrab disapa Bang Azran, menyampaikan apresiasi sekaligus catatan strategis atas progres pembangunan kawasan yang sebelumnya terdiri dari tiga taman, yakni Taman Leuser, Taman Langsat, dan Taman Ayodya.

‎Ketiga taman di Jakarta itu kini diintegrasikan menjadi satu kesatuan bernama Taman Bendera Pusaka. Sebagai seorang pria asli Jakarta dan mengerti pembangunan dan bidang property, Bang Azran menilai langkah integrasi ini bukan sekadar penggabungan fisik ruang terbuka hijau, melainkan sebuah pendekatan urban design yang progresif dan berorientasi jangka panjang.

‎“Integrasi tiga taman menjadi Taman Bendera Pusaka adalah langkah cerdas dalam perencanaan kota modern. Ini bukan hanya soal estetika, tetapi soal ekologi, hidrologi, dan sosiologi perkotaan. Ruang hijau yang terhubung secara fungsional akan jauh lebih efektif dalam mendukung kualitas hidup warga,” ujar Bang Azran.

‎Menurutnya, fungsi taman sebagai area resapan air menjadi elemen krusial dalam konteks Jakarta yang menghadapi tantangan banjir dan penurunan muka tanah. Bang Azran menekankan bahwa taman kota harus dirancang sebagai infrastruktur hijau (green infrastructure), bukan sekadar ruang rekreasi.

‎“Ketika taman dirancang sebagai sistem resapan air yang terintegrasi, kita sedang membangun solusi berbasis alam atau nature-based solutions. Ini adalah pendekatan yang banyak diterapkan di kota-kota maju dunia untuk mengurangi limpasan air hujan dan memperkuat daya dukung lingkungan,” tegasnya.

‎Bang Azran juga menggarisbawahi pentingnya prinsip inklusivitas dalam perancangan Taman Bendera Pusaka. Menurutnya, taman yang baik harus mampu diakses oleh semua kalangan: anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, hingga komunitas olahraga dan seni.

‎“Inklusivitas bukan slogan. Ia harus tercermin dalam desain jalur pedestrian yang ramah kursi roda, pencahayaan yang aman, ruang interaksi sosial yang terbuka, serta zonasi aktivitas yang tertata. Taman adalah ruang demokrasi paling nyata di kota—tempat semua warga setara,” jelas Bang Azran.

‎Pria yang dekat dengan ulama si Jakarta Timur dan nasional itu menambahkan bahwa kehadiran Taman Bendera Pusaka berpotensi menjadi model revitalisasi ruang terbuka hijau di Jakarta, khususnya di kawasan Kebayoran yang memiliki sejarah perencanaan kota berbasis garden city.

‎“Kawasan Kebayoran sejak awal dirancang dengan filosofi kota taman. Dengan integrasi ini, kita seakan menghidupkan kembali ruh perencanaan tersebut dalam konteks kekinian—adaptif terhadap perubahan iklim, kebutuhan sosial, dan dinamika urbanisasi,” ungkapnya.

‎Bang Azran berharap peresmian Taman Bendera Pusaka pada bulan Maret yang rencananya akan dibuka oleh Gubernur Pramono Anung itu tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga momentum konsolidasi kebijakan ruang hijau di Jakarta.

‎“Kita harus memastikan pengelolaan dan perawatannya berkelanjutan. Taman yang baik bukan hanya dibangun dengan anggaran, tetapi dirawat dengan komitmen dan partisipasi warga. Jika dikelola dengan konsisten, Taman Bendera Pusaka dapat menjadi ikon baru ruang publik Jakarta yang membanggakan,” pungkas Bang Azran.

‎Seperti diketahui, Taman Bendera Pusaka merupakan hasil integrasi tiga ruang terbuka hijau di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yakni Taman Leuser, Taman Langsat, dan Taman Ayodya. Ketiga taman ini memiliki jejak sejarah sebagai bagian dari perencanaan kota satelit Kebayoran Baru pada era 1950-an yang dirancang sebagai kawasan hunian modern dengan konsep garden city. Taman Langsat dan Taman Ayodya selama ini dikenal sebagai ruang publik aktif dengan fungsi resapan air dan rekreasi warga, sementara Taman Leuser memperkuat koridor hijau di sekitarnya.

‎Penggabungan kawasan ini menjadi Taman Bendera Pusaka mencerminkan upaya penataan ulang ruang hijau Jakarta secara lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Selain mempertahankan fungsi ekologis sebagai paru-paru kota dan daerah tangkapan air, kawasan ini juga diarahkan menjadi simbol identitas kebangsaan dan ruang interaksi publik yang lebih representatif di tengah dinamika perkembangan Jakarta.

Artikel Terkait

Scroll to Top