bang azran sanggar betawi perlu anggaran lebih

Sanggar Budaya Betawi Butuh Suntikan Anggaran dari Pemprov DKI

Jakarta, 28 Juni 2025 – Senator DPD RI asal DKI Jakarta, H. Achmad Azran, SE atau yang dikenal dengan Bang Azran, menegaskan pentingnya perhatian pemerintah terhadap nasib sanggar-sanggar budaya Betawi yang kini kian meredup. Dalam wawancara bersama Bang Gondrong 86 Channel di acara Gelar Budaya Betawi 2025 yang digelar oleh komunitas Seniman Intelektual Betawi (SIB) di Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (27/6), Bang Azran menyoroti minimnya dukungan anggaran untuk pelaku seni budaya lokal.

“Sekarang ini banyak sanggar budaya Betawi yang nyaris mati suri. Pemerintah harus hadir. Mereka sangat menantikan bantuan, perhatian, dan dukungan yang nyata, terutama dalam hal anggaran,” ujar Bang Azran.

Ia menyebutkan bahwa pelaku budaya di Jakarta, khususnya mereka yang aktif di sanggar-sanggar Betawi, membutuhkan dukungan operasional yang berkelanjutan agar bisa tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi kota. Tanpa dukungan tersebut, ia khawatir warisan budaya Betawi akan perlahan terpinggirkan.

Sebagai anggota DPD RI dari DKI Jakarta, Bang Azran menyatakan kesiapannya untuk mengadvokasi dan mendorong lahirnya regulasi yang bisa menjamin keberlangsungan kegiatan budaya melalui dukungan anggaran yang memadai.

https://youtube.com/shorts/h3QWhd7OSHc?feature=share

“Kalau memang dibutuhkan suntikan dana, saya siap bantu buatkan regulasinya dan dampingi sampai diajukan ke Pemprov DKI,” tegasnya.

Bang Azran juga mengajak Dinas Kebudayaan DKI Jakarta agar lebih proaktif menjalin komunikasi dengan komunitas budaya serta mendengar masukan langsung dari para penggiat seni.

“Yang paling tahu kebutuhan mereka ya para pelaku budaya itu sendiri. Jadi harus ada ruang dialog yang terbuka. Saya siap jadi jembatan untuk itu,” lanjutnya.

Pernyataan ini disampaikannya di sela perayaan ulang tahun ke-498 Jakarta, yang menurutnya sudah semarak dan patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa kemeriahan seremonial harus dibarengi dengan komitmen nyata untuk melestarikan identitas budaya lokal.

“Jakarta bisa jadi kota global, tapi tetap harus punya wibawa budaya. Budaya Betawi adalah akar, jangan sampai hilang,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Scroll to Top