bang azran merbot mesjid

“Marbot Masjid Jadi Senator: Kisah Bang Azran yang Kembali ke Rumahnya”


Jumat siang, langit Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, terlihat bersih dari awan. Sinar matahari menyengat, namun pelataran Masjid Jami’ Khairul Huda tetap ramai. Jemaah berbondong-bondong keluar usai salat Jumat, sebagian masih tertahan di serambi.

Di tengah kerumunan, seorang pria berkemeja putih sederhana berdiri bersisian dengan para tokoh masyarakat. Suaranya tenang, namun kata-katanya menelusuk. Namanya H. Achmad Azran, atau lebih dikenal warga sebagai Bang Azran—anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dapil DKI Jakarta.

Hari itu, Jumat 27 Juni 2025, bukan kali pertama Bang Azran berbicara di hadapan publik, tetapi sorot matanya yang teduh dan kisah yang ia bawa menjadikan siang itu berbeda. Tidak ada podium megah atau naskah pidato formal. Yang ada hanya lantunan cerita yang tumbuh dari getirnya masa lalu, doa-doa yang mengiringi langkah, dan tekad untuk mengabdi.

Jalan Panjang dari Remaja Masjid

Azran, yang kini duduk di lembaga tinggi negara, membuka kisahnya dengan getir yang dituturkan dengan tenang: ia yatim piatu sejak usia 12 tahun. “Pas masuk SMP, saya sudah tidak punya bapak dan ibu,” ujarnya pelan.

Sebagai anak kampung dari daerah Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, masa kecil Azran jauh dari gemerlap politik. Hidupnya digerakkan oleh keberanian dan keberkahan. Ia tidak punya warisan kekayaan. Ia hanya punya satu hal: kedekatan dengan masjid.

“Waktu itu saya dirawat oleh guru saya. Saya bantu-bantu jadi merbot masjid, jadi remaja masjid di Jalan Suci,” kisahnya. Ia hidup dari serambi ke serambi, dari azan subuh hingga bersih-bersih karpet, dari menggulung sajadah hingga membersihkan toilet. Seringkali, ia tidur di emper masjid, beralas sajadah. Namun, dari situlah cita-cita tumbuh: menjadi orang yang bisa memberi manfaat.

Anak Jakarta yang Tak Punya Apa-apa

Kepada para jemaah Masjid Khairul Huda, Bang Azran mengaku terus terang: ia bukan dari kalangan elit. “Saya ini bukan siapa-siapa. Bukan anak jenderal, bukan pengusaha, dan waktu nyalon pun bukan orang yang punya banyak uang,” ungkapnya.

Ia terpilih bukan karena kampanye gila-gilaan. Ia menang karena jalan sunyi yang ia pilih sejak lama—berkhidmat di akar rumput, bersentuhan dengan warga, dan membawa kesaksian hidup yang tidak dibuat-buat.

Pencapaiannya, kata dia, adalah buah dari doa orang-orang yang sering luput disebut dalam pidato: para guru, para ulama, para tetua kampung, dan ibu-ibu yang mendoakan setelah salat.

https://youtu.be/iRYuHEWGXTc

Jakarta yang Rukun, Jakarta yang Nyaman

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat itu, Bang Azran tidak hanya berbagi kenangan, tetapi juga harapan. Ia ingin menjadikan Jakarta rumah yang nyaman bagi semua warganya.

“Jakarta ini rumah kita bersama. Kalau rumahnya nyaman, insyaallah kita akan rukun,” katanya. Ia menekankan bahwa senator bukan wakil partai, bukan corong kelompok tertentu, tetapi mewakili warga Jakarta secara keseluruhan. “Saya ini mewakili Anda semua, bukan mewakili partai. Jadi jangan sungkan-sungkan, silakan kalau ada persoalan—terutama soal hukum atau pertanahan, insyaallah saya bantu.”

Baginya, senayan hanyalah terminal baru dari perjuangan panjang. Panggung utama sesungguhnya tetap berada di tengah masyarakat, di tempat-tempat seperti Masjid Khairul Huda, tempat cerita-cerita kehidupan paling jujur dimulai.

Bukan Pidato, Tapi Pertemuan Jiwa

Yang disampaikan Bang Azran siang itu bukan orasi politisi. Tidak ada selebaran dibagikan, tidak ada jargon. Yang hadir di hadapannya bukan konstituen, melainkan saudara seiman, sahabat lama, para kiai, dan anak-anak muda yang baru mengenal sosoknya.

“Saya harap ini bukan pertemuan pertama dan terakhir. Undang saya kalau ada Maulid, Isra Mikraj, atau pengajian. Saya akan sempatkan hadir,” ujarnya tulus, disambut anggukan para tokoh yang duduk bersamanya.

Di ujung pertemuan, ia menundukkan kepala, meminta doa agar bisa terus menjalankan amanah. “Doakan saya agar bisa menjalankan tanggung jawab ini dengan jujur, dan kelak bisa saya pertanggungjawabkan, bukan hanya kepada warga, tapi juga kepada Allah,” katanya sambil menyeka peluh.

Menjadi Cermin bagi Anak Muda

Bagi mereka yang hadir, terutama generasi muda yang mendengar kisahnya, Bang Azran menjelma menjadi cermin: bahwa ketulusan dan kerja keras bisa melampaui latar belakang apa pun. Ia membuktikan bahwa Jakarta masih mungkin melahirkan pemimpin dari gang-gang kecil, dari pojok musholla, dari anak-anak yang pernah ditinggal orang tua sejak dini.

Sosoknya menentang arus besar politik uang dan popularitas kosong. Ia bukan bintang media sosial, bukan juga figur polesan tim branding. Ia hanya membawa satu hal: rekam jejak hidup yang panjang dan sederhana.

Kembali ke Rumahnya Sendiri

Hari itu, di Masjid Khairul Huda, mungkin Bang Azran tidak merasa sedang berkunjung. Ia tidak sedang berkampanye, tidak juga bersafari politik. Ia hanya sedang pulang—pulang ke rumah besarnya: masjid, tempat ia dibesarkan.

Ia tahu betul bahwa jalan keadilan sosial, seperti jalan ke masjid, harus dilalui dengan kaki yang kuat dan hati yang bersih. Ia telah menapakinya sejak usia belia. Kini, dengan mandat dari rakyat Jakarta, ia hanya ingin mengembalikan amanah itu ke tempat asalnya.

“Kalau saya bisa sampai di titik ini,” katanya, “itu bukan karena saya hebat. Tapi karena Allah dan doa kalian semua.”

Sore itu, matahari mulai turun pelan. Tapi kisah Bang Azran justru terasa baru dimulai. Sebuah cerita yang lahir dari sajadah dan mimbar kecil, dan kini bergema dari Senayan hingga lorong-lorong sempit Jakarta.

Artikel Terkait

Scroll to Top