Jakarta, 29 Juni 2025 — Ketua Majelis Adat Bamus Suku Betawi 1982, Mayjen TNI (Purn) Nahrowi Ramli, SE, menyuarakan target ambisius namun realistis untuk masa depan politik orang Betawi: 60 kursi DPRD DKI Jakarta pada tahun 2029. Hal ini disampaikan dalam Pelatihan Kepemimpinan Pemuda dan Perempuan yang diselenggarakan Bamus Suku Betawi 1982 di Hotel Fave, PGC, Jakarta Timur, Ahad (29/6).
“Saya bermimpi, tahun 2029 nanti, dari 100 anggota DPRD DKI Jakarta, 60-nya adalah orang Betawi,” tegas Nahrowi Ramli di hadapan para peserta pelatihan. “Itu bisa tercapai kalau Bamus Suku Betawi 1982 ini benar-benar menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin-pemimpin Betawi masa depan.”
Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan sekaligus harapan tokoh senior Betawi terhadap minimnya representasi politik masyarakat Betawi di ibu kota mereka sendiri. Menurut Nahrowi, keberhasilan politik adalah bagian dari upaya menyelamatkan dan memperkuat eksistensi budaya dan masyarakat Betawi di tengah pesatnya perkembangan kota Jakarta.
Kegiatan pelatihan ini juga dihadiri tokoh penting seperti H. Achmad Azran, SE (Anggota DPD RI DKI Jakarta), Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, perwakilan Camat, Kapolsek, Dandim, Ketua Forum Komunikasi Lembaga Musyawarah Kelurahan (FK-LMK) DKI Jakarta, serta jajaran pengurus Bamus Betawi 1982.
Nahrowi menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya soal teori kepemimpinan, tapi juga latihan nyata untuk mencetak kader politik dan sosial yang bisa memimpin perubahan. Ia mengingatkan bahwa pemimpin sejati bukan hanya simbol, tapi harus hadir sebagai komandan, bapak, dan guru bagi komunitasnya.
“Pemimpin itu bukan sekadar jabatan. Dia harus tahu arah, bisa membimbing, dan mengayomi. Kalau tidak setuju dengan AD/ART organisasi, jangan merusak dari dalam. Lebih baik keluar,” ucapnya tegas.
Beliau juga berharap peserta memahami tantangan Jakarta sebagai kota global, dan mengajak para pemuda dan perempuan Betawi untuk hafal serta menguasai indikator-indikator strategis agar bisa bersaing secara setara.
Dengan semangat kebetawian yang kuat, Nahrowi Ramli membuka pelatihan secara resmi, dan menutup sambutannya dengan harapan besar: agar generasi Betawi bangkit bukan hanya di panggung budaya, tapi juga di gelanggang politik.
Dalam sambutannya, Mayjen (Purn) Nahrowi Ramli menegaskan bahwa Bamus Suku Betawi 1982 adalah wadah pemersatu bagi berbagai organisasi Betawi, yang harus bergerak dengan hati, pikiran, dan langkah yang seirama dalam misi besar meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Betawi.
“Satukan hati, satukan pikiran, dan tetapkan langkah. Jangan ke kiri ke kanan. Jangan menyimpang dari tujuan. Kalau mau ikut organisasi ini, patuhi Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART). Kalau tidak setuju, lebih baik keluar daripada merusak dari dalam,” tegas beliau.
Nahrowi menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah kawah candradimuka untuk mencetak pemimpin Betawi masa depan yang siap menghadapi tantangan global. Ia bahkan menantang peserta untuk menghafal enam indikator kota global, sebagai bagian dari kesadaran strategis dalam memajukan Jakarta dan komunitas Betawi.
“Kalau ini pelatihan, harus ada tes. Kalau tidak, itu namanya ceramah. Pemimpin itu harus komandan yang menentukan arah, juga bapak yang mengayomi, dan guru yang mengajari,” ujarnya dengan gaya khas seorang mantan jenderal.
Beliau juga menyampaikan pentingnya pemimpin yang peduli dan dekat dengan rakyat. Ia mencontohkan, “Kalau anak buah sakit, kita harus datang ke rumahnya. Bawa dua butir telur pun cukup. Kalau kita peduli, rakyat akan ikut berjuang.”
Di akhir sambutannya, Nahrowi menaruh harapan besar agar Bamus Suku Betawi 1982 menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan pemimpin-pemimpin Betawi yang kuat secara kapasitas, loyal terhadap budaya, dan punya semangat kebangsaan. Ia bahkan memimpikan kehadiran lebih banyak wakil Betawi di parlemen Jakarta pada tahun 2029.
“Saya bermimpi, tahun 2029 nanti, dari 100 anggota DPRD DKI Jakarta, 60-nya adalah orang Betawi. Ini bisa tercapai kalau kita jadikan organisasi ini sebagai tempat belajar politik dan kepemimpinan yang nyata,” pungkasnya.
Dengan semangat yang membara, pelatihan ini dibuka secara resmi dan diharapkan mampu mencetak generasi Betawi yang siap menjadi pemimpin di berbagai level pemerintahan dan sosial.