JAKARTA — Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang selalu ingin dihormati, melainkan mereka yang bersedia mendengar, menerima keluhan, bahkan membiarkan dirinya direpotkan oleh persoalan rakyat. Prinsip itulah yang dipegang Anggota DPD RI/MPR RI Dapil DKI Jakarta Achmad Azran (Bang Azran) ketika menyambangi masyarakat di RT 06/RW 02, Jagakarsa, Jakarta Selatan, sekaligus menyalurkan ratusan bantuan sembako dan menyerap aspirasi warga.
Dalam sambutannya, Bang Azran secara khusus mengapresiasi Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Dadang Hartanto yang membuka akses komunikasi langsung bagi masyarakat melalui nomor WhatsApp pribadinya untuk menerima pengaduan, kritik, dan saran. Langkah tersebut dinilainya sebagai wujud kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan memiliki kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Saya salut dan mengapresiasi Kapolda Metro Jaya. Bagi saya, pemimpin yang mau membuka nomor pribadinya untuk menerima pengaduan masyarakat adalah pemimpin yang menunjukkan rasa sayang kepada rakyatnya. Beliau tidak membangun jarak, tetapi justru membuka pintu agar rakyat bisa menyampaikan keluh kesahnya secara langsung,” kata Bang Azran.
Menurut dia, keberanian seorang pejabat membuka ruang komunikasi langsung merupakan contoh kepemimpinan yang patut diteladani. Kritik dan keluhan masyarakat tidak semestinya dipandang sebagai gangguan, tetapi harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan.
“Pemimpin itu harus siap diganggu oleh rakyatnya sendiri. Jangan takut menerima keluhan, jangan alergi terhadap kritik. Kalau ada masyarakat yang datang menyampaikan kesulitan, dengarkanlah. Bisa jadi, bagi kita persoalan itu terlihat sederhana, tetapi bagi mereka sangat berat. Saya berharap semakin banyak pejabat yang memiliki keberanian dan kepedulian seperti ini,” ujarnya.
Bagi Bang Azran, kecintaan seorang pemimpin kepada rakyat tidak cukup disampaikan melalui pidato atau janji. Rasa sayang itu harus diwujudkan melalui kesediaan untuk mendengar, memahami kesulitan, dan mencari jalan keluar bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Semangat tersebut pula yang mendasari pendirian SIAAP (Sarana Informasi Achmad Azran Peduli). Organisasi ini diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan dirinya, sekaligus ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi maupun persoalan yang membutuhkan perhatian.
“Saya mendirikan SIAAP karena ingin masyarakat punya tempat untuk mengadu. Saya tidak ingin ada warga yang kelaparan, ada orang sakit yang tidak mendapatkan pertolongan, atau ada keluarga yang menghadapi kesulitan hidup tetapi tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Kalau ada masyarakat yang mengalami kesulitan dan kita sebenarnya bisa membantu, tetapi kita memilih tidak peduli, saya khawatir itu menjadi dosa bagi saya.” tutur Bang Azran.
Ia menegaskan, sebagai wakil daerah, dirinya memiliki tanggung jawab moral untuk terus mendengarkan suara masyarakat. Meski tidak semua persoalan dapat diselesaikan sekaligus, setidaknya masyarakat tidak boleh merasa sendirian ketika menghadapi kesulitan.
Karena itu, Bang Azran mengajak warga Jakarta Selatan, khususnya masyarakat Jagakarsa, untuk tidak ragu menyampaikan persoalan mereka melalui SIAAP. Mulai dari kebutuhan pangan, kesulitan mendapatkan akses pengobatan, persoalan pendidikan anak, hingga berbagai masalah sosial yang memerlukan perhatian.
“Silakan tuangkan aspirasi dan persoalan Bapak-Ibu melalui SIAAP. Kalau ada warga yang sakit dan kesulitan berobat, sampaikan. Kalau ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, jangan dipendam sendiri. Kita dengarkan, kita pelajari, dan kita upayakan jalan keluarnya sesuai kemampuan dan kewenangan yang ada. Jangan sampai ada masyarakat yang merasa tidak punya tempat untuk mengadu,” katanya.
Penyaluran bantuan sembako dalam kunjungan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Namun, Bang Azran menekankan bahwa perhatian kepada warga tidak boleh berhenti setelah bantuan diserahkan atau kegiatan selesai dilaksanakan.
Baginya, kunjungan langsung merupakan kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat lebih dekat, memahami persoalan yang mereka hadapi, dan memastikan bahwa aspirasi warga tidak berhenti sebagai cerita yang didengar sesaat.
Sebagai putra asli Betawi sekaligus Ketua Umum DPP FORKABI (Forum Komunikasi Anak Betawi), Bang Azran juga ingin merawat semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta.
“Buat saya, jabatan itu amanah. Kita harus ingat bahwa ada tanggung jawab kepada masyarakat dan kepada Allah SWT. Jangan sampai kita merasa sudah berbuat banyak, tetapi ternyata masih ada orang di sekitar kita yang kelaparan, kesulitan berobat, atau membutuhkan pertolongan yang tidak pernah kita ketahui karena kita tidak mau mendengar,” ucapnya.
Ia berharap semangat pelayanan yang ditunjukkan Kapolda Metro Jaya dapat menginspirasi pejabat dan pemangku kepentingan lainnya untuk semakin dekat dengan masyarakat.
“Pemimpin yang baik bukan yang sulit ditemui, melainkan yang membuat rakyat berani datang dan menyampaikan persoalannya. Saya ingin SIAAP menjadi bagian dari semangat itu. Kita mungkin tidak bisa menyelesaikan semua masalah dalam satu hari, tetapi jangan pernah menutup pintu bagi orang yang membutuhkan pertolongan,” tutup Bang Azran.(*)